Just another WordPress.com site

Latest

Makalah Rhizopus oligosporus

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya kami masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini.Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada dosen mikologi serta rekan-rekan yang telah memberikan dukungan dan bantuannya dalam menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini dibuat dengan tujuan memberikan informasi kepada pembaca khususnya mahasiswa program studi biologi tentang kehidupan jamur Zygomycota khususnya tentang jamur Rhizopus oligosporus.

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini banyak kekurangan, oleh sebab itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan umumnya bagi pembaca.

Terimakasih

Jember, November 2010

Penyusun

BAB I. PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang

Di lingkungan kita terdapat banyak sekali organisme yang makroskopik maupun mikroskopik. Salah satunya adalah jamur atau fungus (jamak: fungi). Fungi merupakan organisme tingkat rendah yang belum mempunyai akar, batang, daun. Tubuh terdiri dari satu sel (uniseluller) dan bersel banyak (multiseluller). Sel berbentuk benang (hifa). Hifa akan bercabang-cabang membentuk bangunan seperti anyaman yang disebut miselium. Sel bersifat eukaryotik, tidak mempunyai klorofil, sebagai parasit atau saprofit. Menyukai hidup pada tempat yang lembab dan tidak menyukai akan adanya cahaya. Terdapat beberapa divisi fungi antara lain Zygomycota, Ascomycota, Basidiomycota, Deuteromycota, dan Chytridiomycota. Salah satu jamur yang telah banyak dikenal adalah dari divisi Zygomicota. Zygomycota, adalah tumbuhan jamur yang terdiri dari benang-benang hifa yang bersekat, tetapi ada pula yang tidak bersekat. Jamur-jamur dalam kelas ini sebagian besar hidup di darat dan di dalam tanah atau pada bagian tumbuhan dan hewan yang membusuk.  Jamur dalam kelas ini disebut sebagai jamur paling tinggi dibandingkan dengan kelas Ascomycota dan Basidiomycota.

Jamur dari divisi ini memiliki peranan penting bagi kehidupan, beberapa diantaranya bermanfaat dalam pembusukan sisa makhluk hidup yang sudah mati dan bermanfaat banyak dalam bidang teknologi pangan misal Rhizopus sp dalam pembuatan tempe dll. Namun banyak juga yang bersifat parasit dan menimbulkan kerugian oleh karena itu kita mempelajari tentang jamur dan makalah ini disusun guna lebih mengetahui tentang jamur dari divisi Zygomicota khususnya Rhizopus oligosporus.

I.2. Rumusan masalah.

I.2.1. Apakah yang dimaksud jamur Rhizopus oligosporus?

I.2.2.Bagaimanakah morfologi dari jamur Rhizopus oligosporus?

I.2.3.Apa sajakah peranan dari jamur Rhizopus oligosporus?

I.2.4. Bagaimana klasifikasi jamur Rhizopus oligosporus?

I.3. Tujuan.

I.3.1. Untuk mengetahui apa dimaksud jamur Rhizopus oligosporus?

I.3.2. Untuk mengetahui morfologi dari jamur Rhizopus oligosporus?

I.3.3.Untuk mengetahui peranan dari jamur Rhizopus oligosporus?

I.3.4. Untuk mengetahui klasifikasi jamur Rhizopus oligosporus?

BAB III METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat dan bahan:

Alat :

  • mikroskop,
  • kaca benda,
  • kaca penutup,
  • pinset.
  • Pipet tetes

Bahan :

  • tempe yang mengandung koloni jamur Rhizopus oligosporus,
  • air.

3.2 Cara kerja

Pengamatan Rhizopus oligospporus:

  1. Sediakan koloni jamur Rhizophusoligpsporus dari tempe.
  2. Ambil sedikit jamur dari koloni tersebut
  3. Letakkan pada kaca benda.
  4. Beri sedikit air.
  5. Tutup dengan kaca penutup.
  6. Amati dibawah mikroskop mengenai morfologi jamur R.oligosporus ( warna, bentuk dan bagian- bagiannya)
  7. Catat dan gambarkan hasil pengamatan tersebut.

Makalah identifikasi jamur C. albicans

BAB I. PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang

Salah satu makhluk hidup yang banyak terdapat dilingkungan kita adalah fungus atau jamur. Baik jamur yang berukuran mikroskopik maupun yang berukuran makroskopik. Fungi merupakan organisme tingkat rendah yang belum mempunyai akar, batang, daun. Tubuh terdiri dari satu sel (uniseluller) dan bersel banyak (multiseluller). Sel berbentuk benang (hifa). Hifa akan bercabang-cabang membentuk bangunan seperti anyaman yang disebut miselium. Sel bersifat eukaryotik, tidak mempunyai klorofil, sebagai parasit atau saprofit. Menyukai hidup pada tempat yang lembab dan tidak menyukai akan adanya cahaya. Terdapat beberapa divisi fungi antara lain Zygomycota, Ascomycota, Basidiomycota, Deuteromycota, dan Chytridiomycota.

Salah satu dari divisi tersebut adalah divisi Ascomycota. Lebih dari 600.000 spesies Ascomycota telah dideskripsikan. Tubuh jamur ini tersusun atas miselium dengan hifa bersepta. Pada umumnya jamur dari divisio ini hidup pada habitat air bersifat sebagai saproba atau patogen pada tumbuhan. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang hidup bersimbiosis dengan ganggang membentuk Lichenes (lumut kerak).

Divisi Ascomycota merupakan kelompok jamur yang paling banyak ditemukan, jamur ini hidup secara parasit dan menimbulkan penyakit, namun ada pula yang bermanfaat diantaranya dalam bidang teknologi pangan. Salah satu contoh dari Ascomycota adalah Candida albicans. Jamur ini tergolong jamur yang sangat merugikan bagi hewan dan khususnya manusia. Jadi dalam makalah ini akan dibahas mengenai Candida albicans sehingga kita akan mengetahui lebih mendalam tentang jamur tersebut.

I.2. Rumusan masalah.

I.2.1. Apakah yang dimaksud jamur Candida albicans?

I.2.2.Bagaimanakah morfologi dari jamur Candida albicans?

I.2.3.Apa sajakah peranan dari jamur Candida albicans?

I.2.4. Bagaimana klasifikasi jamur Candida albicans?

I.3. Tujuan.

I.3.1. Untuk mengetahui apa dimaksud jamur Candida albicans?

I.3.2. Untuk mengetahui morfologi dari jamur Candida albicans?

I.3.3.Untuk mengetahui peranan dari jamur Candida albicans?

I.3.4. Untuk mengetahui klasifikasi jamur Candida albicans?

BAB III METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat dan dahan:

Alat :

  • mikroskop,
  • kaca benda,
  • kaca penutup,
  • ose, cawan petri,
  • bunsen,
  • vortex,
  • tabung reaksi,
  • inkubator.

Bahan :

  • PDA,
  • alkohol,
  • cat a(anilin  crystal violet),
  • cat b (safranin),
  • aquadest,
  • inokulum jamur Candida albicans.

3.2 Cara Kerja.

Pembuatan Mediaum Candida albicans Medium Potato Dexterosa Agar (PDA)

Medium PDA meliputi medium cawan dan medium  miring. Keduanya dari larutan PDA yaitu campuran serbuk dexterosa agar dan larutan poptato atau kentang dengan jumlah sesuai kebutuhan, setiap 15gr dexterosa agar dilarutkan dalam 1000 ml akuades dan setiap 200 gr kentang dilarutkan dalam 1000 ml air.

  1. Didihkan akuades sesuai dengan ukuran yang diinginkan
  2. Setelah mendidih masukkan kentang yang telah dikupas dan dipotong kecil-kecil
  3. Diaduk-aduk selama 15menit
  4. Setelah 15menit angkat dan saring larutan kentang tersebut
  5. Tuangkan serbuk dextrose agar dalam karutan kentang yang sudah disaring
  6. Panaskan kembali hingga mendidih sambil diaduk-aduk
  7. Tuang sebanyak 25ml kedalam cawan petri dan 5ml dalam tabung reaksi

Pembuatan Inokulum Candida albicans

Pembuatan inokulum Candida albicans dibuat untuk persediaan atau meremajakan jamur. Langkah-langkahnya meliputi

  1. Sterilkan tangan teerlebih dahulu menggunakan alkohol 70%
  2. Panaskan ose diatas lampu bunsen
  3. Ambil 1ose dari biakan asal jkamur candida albicans
  4. Buat goresan/strike pada medium
  5. Panaskan ose yang telah digunakan diatas lampu bunsen
  6. Inkubasi pada suhu 30o Celcius selama waktu optimum jamur

Identifikasi Jamur Candida Albicans

Karakteristik jamur dilakukan dengan cara pewarnaan khamir, langkah-lanhgkah pewarnaan kahamir meliputi:

  1. Satu ose jamur diambil dan diencerkan dengan aquades steril sebanyak 5 ml, kemudian divortek
  2. Ambil satu ose dan letakkan di atas gelas benda dan diratakan
  3. Kemudian dikering anginkan, setelah kering di fiksasi sebanyak 5-7kali di atas lampu bunsen
  4. Teteskan larutan cat anilin  crystal violet (cat a), dan panaskan selama 3menit Sambil dijaga jangan sampai mendidih dan kering
  5. Dicuci dengan air mengalir
  6. Lunturkan dengan menggunakan larutan alkohol asam
  7. Cuci kembali dengan menggunakan air mengalir, dan kering angikan
  8. Tetesi dengan larutan cat safranin (cat b) selama 10-15 detik
  9. Cuci dengan air mengalir dan kering anginkan
  10. Amati dengan mikroskop hingga perbesaran kuat dengan menggunakan minyak emersi
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.